<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>BaliGong Website</title>
    <description>Kami melayani antar jemput dan paket wisata sesuai dengan keinginan client. Armada kami siap untuk mengantarkan anda ke lokasi tujuan dengan full support yang kami berikan.</description>
    <link>http://localhost:4000/</link>
    <atom:link href="http://localhost:4000/feed.xml" rel="self" type="application/rss+xml" />
    <pubDate>Thu, 04 May 2017 23:31:50 +0900</pubDate>
    <lastBuildDate>Thu, 04 May 2017 23:31:50 +0900</lastBuildDate>
    <generator>Jekyll v3.4.3</generator>
    
      <item>
        <title>Bromo i'am coming.....!</title>
        <description>&lt;p&gt;Perjalanan melalui pintu barat dari arah pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat objek wisata ( lautan pasir )terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa cemoro lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang sering ditampilkan di foto - foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan di mana kearah selatan akan memasuki ranu pane ( kearah gunung semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir bromo yang berada di punggung gunung bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tetapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 - 3 pagi. Di mana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap - siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan ( apalagi ditengah kabut tebal ), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 - 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>Sat, 18 Mar 2017 01:52:07 +0900</pubDate>
        <link>http://localhost:4000/wisata/probolinggo/2017/03/17/bromo-i'am-coming.html</link>
        <guid isPermaLink="true">http://localhost:4000/wisata/probolinggo/2017/03/17/bromo-i'am-coming.html</guid>
        
        <category>jekyll</category>
        
        <category>update</category>
        
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>probolinggo</category>
        
      </item>
    
      <item>
        <title>Betoh So’on Solor Bondowoso – Jawa Timur!</title>
        <description>&lt;p&gt;Kalau Inggris punya Stonehenge, Indonesia punya Betoh So’on. Mereka sama – sama batu purba yang besar, tinggi kokoh dan tersusun indah. Wisata Betoh So’on ini terletak di Jawa Timur Kabupaten Bondowoso kecamatan Cerme desa Solor dekat perbatasan dengan kabupaten Situbondo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari arah Bondowoso kota jalan PB Sudirman lurus aja menuju ke kabupaten Situbondo hingga tiba di Prajekan. Nah, sebelum jembatan perbatasan dengan kabupaten Situbondo itu ada pertigaan. Belok kanan ya. Setelah itu terus aja ikuti jalan beraspal. Jika ada persimpangan lebih baik bertanya ke penduduk setempat. Bilang saja mau ke Solor pasti mereka dengan ramah memberitahu keberadaan wisata yang tergolong masih baru ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jalan menuju ke Cerme bagus dan beraspal. Namun, jalan menuju ke desa Solor itu yang minta ampun jeleknya. Jalan Markadam dan batu cadas. Mobil pendek seperti Ayla contohnya dijamin ga bisa masuk sono karena pasti terbentur body kolongannya. Sayang mobilnya deh. Jadi, kalau kesana lebih baik minimal naik kijang inova. Kalau bisa bawa mobil 4 x 4. Motor atau trail bisa juga menjangkau tempat wisata yang umumnya mereka sebut wisata Solor ini. Bahkan, dengan motor atau trail kalian bisa menelusuri area Stonehenge van java ini hingga tepat dibawahnya. Medan termasuk kategori berat, harus extra hati – hati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kalau terpaksa hanya punya mobil pendek seperti Ayla bisa saja kalian mengunjungi Betoh So’on ini, hanya tidak sampai di lokasi letak batu purba. Titipkan mobil anda di rumah penduduk Solor lalu minta tolong untuk diantarkan ke lokasi dengan motor mereka. Mereka bukan ojek namun mereka bersedia mengantarkan tamu. Pastinya setelah itu kalian harus memberi imbalan sukarela sebagai tanda terima kasih.Berilah yang pantas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usahakan berangkatnya pagi hari agar tidak kesiangan lalu kepanasan karena perjalanannya membutuhkan waktu yang lama. Sebenarnya tidak terlalu jauh lokasinya hanya saja jalannya yang markadam itu yang bikin makan waktu. Disana ada penjual minuman dan snack. Tidak ada toilet. Tempat parkir sudah tersedia. HTM nihil.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Wisatawan masih belum banyak yang tahu mengenai Betoh So’on ini. Waktu Kami berkunjung masih sepi. Hanya beberapa orang saja yang berkunjung. Dan mereka semua wisatawan domestik dan regional saja. Yang takut gosong jangan lupa pakai sun block hehehe&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Alam pedesaan selama perjalanan menjadikan wisata Solor ini beda. Kanan kiri ladang tembakau, jagung, cabe, dan sawah. Rumah penduduk juga masih ciri khas pedesaan. Satu halaman terdiri dari beberapa rumah beberapa keluarga. Penduduk mandi di sungai juga masih ada hahaha Hewan sapi menjadi icon peliharaan mereka. Namun jaman sekarang walaupun di desa mereka minimal sudah mempunyai motor dan televisi. Nah itu bedanya dengan desa tempo dulu hehehe.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kami memulai petualangannya jam 7 pagi dari kota Jember. Tiba di lokasi wisata jam 11 siang. Wisata Solor tergolong unik. Batu cadas besar tersusun indah diantara jurang. Area sekitarnya juga tampak barisan batu cadas membuatnya tampak lebih unik. Pohon – pohon dan semak liar yang membedakannya dengan stonehenge di Inggris.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>Sun, 15 Nov 2015 01:52:07 +0900</pubDate>
        <link>http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/beto'h-soon-i'amcoming.html</link>
        <guid isPermaLink="true">http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/beto'h-soon-i'amcoming.html</guid>
        
        <category>jekyll</category>
        
        <category>update</category>
        
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
      </item>
    
      <item>
        <title>Bukit Teletubbies Kawah Wurung Bondowoso!</title>
        <description>&lt;p&gt;Gunung merapi Ijen tak hanya mepunyai gunung, kawah, atau api biru abadi yang menarik minat banyak wisatawan. Di Kecamatan Sempol, Bondowoso, terdapat Kawah Wurung yang punya hamparan rumput ibarat bukit teletubbies yang bisa menjadi wisata alternatif baik wisatawan lokal, maupun mancanegara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kawah Wurung secara letak gografis berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Bondowoso. Namun kawasan yang memiliki luas sekitar 100 ha ini masuk dalam pengelolaan Perhutani KPH Bondowoso.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama Kawah Wurung diambil lantaran kondisi geografis kawasan yang menyerupai kawah yang tidak jadi (wurung, bahasa Jawa). Konon katanya, kawasan ini dulunya merupakan bagian dari kaldera Gunung Ijen. Hal itu bisa dilihat dari adanya hamparan lembah menganga seperti Kaldera.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tak mudah seperti apa yang dibayangkan, untuk menuju kawasan bukit yang berjuluk Highland Paradise ini bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Ada dua rute alternatif, yakni lewat areal perkebunan Jampit dan Margahayu. Keduanya adalah kawasan PTPN XII Kalisat Jampit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun rute yang lewat kebunan Jampit jalanan masih berupa jalan makadam sepanjang 18 km. Sehingga, bagi kendaraan roda empat perjalanan melalui Jampit terkesan cukup melelahkan. Meskipun sepanjang perjalanan wisatawan bisa menikmati kebun kopi dan strawberry yang dikelola perkebunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sementara jika lewat Margahayu jalannya relatif cukup mudah, kendati hanya berupa jalanan tanah berpasir. Di kiri kanan jalan sepanjang 3 km juga bisa menikmati area kebun kopi. Setelah melewati perkampungan milik perkebunan, kendaraan roda empat maupun roda dua bisa langsung diparkir di kaki bukit. Bahkan, untuk kendaraan roda dua bisa langsung naik hingga atas bukit pandang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Begitu tiba di atas bukit pandang, panorama alam bukit tampak mempesona langsung memanjakan mata. Betapa tidak. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah hamparan lembah padang sabana dan perbukitan yang menghijau bak permadani‎.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tak hanya itu. Di seberang lembah sabana itu berdiri kokoh perbukitan bernama Bukit Cincin. Dinamakan Bukit Cincin karena di puncak bukit itu terdapat sebuah kubangan layaknya kaldera gunung berdiameter sekitar 100 meter yang bulat bak cincin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagian wisatawan malah menamakan kawasan perbukitan itu sebagai Bukit Teletubbies, karena mirip dengan bukit buatan yang terdapat dalam tayangan televisi yang ngetop di era 90-an tersebut. Yakni, berupa bukit halus menghijau seperti diselimuti permadani. Namaun Belakangan, Kawah Wurung mulai dilirik untuk pengembangan olah raga paralayang dan gantole.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejumlah pegiat olah raga dirgantara dari luar Bondowoso mulai berdatangan untuk melakukan uji coba. Uji coba dilakukan untuk mengukur potensi angin yang ada di kawasan itu yang menggerakkan paralayang dan gantole. Termasuk untuk area pendaratan setelah puas menikmati Kawah Wurung dari udara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Para pegiat olah raga paralayang mulai uji coba di area perkebunan kopi megasarai simpol, lokasi ini memang pas di jadikan area olahraga paralayang,” ujar Icuk salah satu pegiat olah raga paralayang&lt;/p&gt;

</description>
        <pubDate>Sun, 15 Nov 2015 01:52:07 +0900</pubDate>
        <link>http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/bukit-teletubies.html</link>
        <guid isPermaLink="true">http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/bukit-teletubies.html</guid>
        
        <category>bukit</category>
        
        <category>wisata</category>
        
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
      </item>
    
      <item>
        <title>Ijen I'am coming......!</title>
        <description>&lt;p&gt;The Ijen volcano complex is a group of composite volcanoes in the Banyuwangi Regency of East Java, Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;It is inside a larger caldera Ijen, which is about 20 kilometres wide. The Gunung Merapi stratovolcano is the highest point of that complex. The name “Gunung Merapi” means “mountain of fire” in the Indonesian language (api being “fire”); Mount Merapi in central Java and Marapi in Sumatra have the same etymology.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;West of Gunung Merapi is the Ijen volcano, which has a one-kilometre-wide turquoise-coloured acidic crater lake. The lake is the site of a labour-intensive sulfur mining operation, in which sulfur-laden baskets are carried by hand from the crater floor. The work is paid well considering the cost of living in the area, but is very onerous.[2] Workers earn around Rp 50,000 - 75,000 ($5.50-$8.30) per day and once out of the crater, still need to carry their loads of sulfur chunks about three kilometers to the nearby Paltuding Valley to get paid.[3]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Many other post-caldera cones and craters are located within the caldera or along its rim. The largest concentration of post-caldera cones run east-west across the southern side of the caldera. The active crater at Kawah Ijen has a diameter of 722 metres (2,369 ft) and a surface area of 0.41 square kilometres (0.16 sq mi). It is 200 metres (660 ft) deep and has a volume of 36 cubic hectometres (29,000 acre·ft).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;The lake is recognised as the largest highly acidic crater lake in the world.[1] It is also a source for the river Banyupahit, resulting in highly acidic and metal-enriched river water which has a significant detrimental effect on the downstream river ecosystem.[4] On July 14–15, 2008, explorer George Kourounis took a small rubber boat out onto the acid lake to measure its acidity. The pH of the water in the lake’s edges was measured to be 0.5 and in the middle of the lake 0.13 due to high sulfuric acid concentration.[5]&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>Sun, 15 Nov 2015 01:52:07 +0900</pubDate>
        <link>http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/ijen-i'am-coming.html</link>
        <guid isPermaLink="true">http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/ijen-i'am-coming.html</guid>
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>gunung</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
        <category>volcano</category>
        
        <category>bluefire</category>
        
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
      </item>
    
      <item>
        <title>Blue fire crater!</title>
        <description>&lt;p&gt;Since National Geographic mentioned the electric-blue flame of Ijen, tourist numbers increased. The phenomenon has occurred for a long time, but beforehand there was no midnight hiking. A two-hour hike is required to reach the rim of the crater, followed by a 45-minute hike down to the bank of the crater. The blue fire is ignited sulphuric gas, which emerges from cracks at temperatures up to 600 degrees Celsius (1,112 degrees Fahrenheit).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;The flames can be up to 5 metres (16 feet) high; some of the gas condenses to liquid and is still ignited.It is the largest blue flame area in the world and local people refer to it as ‘Blue Fire’.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sulfur mining at Ijen&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;An active vent at the edge of the lake is a source of elemental sulfur, and supports a mining operation. Escaping volcanic gases are channelled through a network of ceramic pipes, resulting in condensation of molten sulfur.[9] The sulphur, which is deep red in colour when molten, pours slowly from the ends of these pipes and pools on the ground, turning bright yellow as it cools. The miners break the cooled material into large pieces and carry it away in baskets. Miners carry loads ranging from 75 kilograms (165 lb) to 90 kilograms (200 lb), up 300 metres (980 ft) to the crater rim, with a gradient of 45 to 60 degrees and then 3 kilometres (1.86 miles) down the mountain for weighing. Most miners make this journey twice a day. A nearby sugar refinery pays the miners by the weight of sulfur transported; as of September 2010, the typical daily earnings were equivalent to approximately $13 US. The miners often receive insufficient protection while working around the volcano [10] and complain of numerous respiratory afflictions. There are 200 miners, who extract 14 tons per day - about 20 percent of the continuous daily deposit.[11]&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>Sun, 15 Nov 2015 01:52:07 +0900</pubDate>
        <link>http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/the-blue-fire.html</link>
        <guid isPermaLink="true">http://localhost:4000/wisata/bondowoso/2015/11/14/the-blue-fire.html</guid>
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>gunung</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
        <category>volcano</category>
        
        <category>bluefire</category>
        
        
        <category>wisata</category>
        
        <category>bondowoso</category>
        
      </item>
    
  </channel>
</rss>
